LAMPUNG (KANDIDAT) – Kenaikan harga BBM diprediksi menjadi pemicu gelombang kenaikan harga kebutuhan pokok di berbagai daerah
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Lampung, Dr. Usep Syaipudin, S.E., M.S.Ak., mengatakan bahwa kenaikan harga BBM memiliki efek berantai yang dapat memengaruhi berbagai sektor usaha hingga kesejahteraan masyarakat.
Menurut Usep, dampak pertama yang langsung dirasakan adalah meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang. Kondisi tersebut kemudian mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
“Kenaikan harga BBM itu dampaknya berantai. Biaya transportasi naik, kemudian harga barang ikut naik karena biaya distribusi meningkat. Ketika harga-harga naik, daya beli masyarakat menurun dan dalam jangka panjang dapat meningkatkan angka kemiskinan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara nasional kenaikan BBM akan memicu efek domino terhadap aktivitas ekonomi. Biaya produksi berbagai sektor usaha meningkat, sementara kemampuan masyarakat untuk berbelanja justru melemah akibat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Di Provinsi Lampung, lanjut Usep, dampak tersebut berpotensi dirasakan cukup kuat oleh pelaku usaha mikro. Inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga BBM dapat membuat usaha kecil semakin sulit bertahan karena biaya operasional meningkat, sementara penjualan belum tentu ikut naik.
“Data menunjukkan usaha mikro menjadi kurang stabil ketika terjadi kenaikan harga BBM. Inflasi menjadi salah satu faktor utama yang membuat pelaku usaha kecil menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan usahanya,” katanya.
Usep menyebut sektor UMKM menjadi salah satu yang paling rentan terdampak. Pedagang makanan, usaha katering, dan warung harus menghadapi kenaikan harga bahan baku serta biaya transportasi. Namun di sisi lain, mereka kesulitan menaikkan harga jual karena daya beli konsumen sedang melemah.
Selain UMKM, sektor transportasi dan logistik juga akan merasakan dampak langsung. Pengemudi ojek online, angkutan barang, hingga perusahaan logistik harus menanggung biaya operasional yang lebih tinggi akibat kenaikan harga bahan bakar.
Sementara itu, sektor ritel dan kuliner diperkirakan mengalami penurunan penjualan karena masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan non-esensial. Di sektor pertanian, kenaikan biaya distribusi hasil panen juga menjadi tantangan tersendiri karena harga jual di tingkat petani belum tentu mengalami kenaikan yang sebanding.
Menurut Usep, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan terdampak. Mereka harus mengalokasikan porsi pengeluaran yang lebih besar untuk transportasi dan kebutuhan pokok sehingga kebutuhan lainnya terpaksa dikurangi.
“Daya beli kelompok berpenghasilan rendah akan paling tertekan karena penghasilan mereka relatif tetap, sementara harga barang dan jasa terus meningkat,” jelasnya.
Ia mengingatkan, bahwa kenaikan BBM berpotensi meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran apabila tidak diimbangi dengan kebijakan perlindungan sosial yang memadai. Pendapatan riil masyarakat akan menurun karena kenaikan harga tidak diikuti peningkatan pendapatan.
“Jika UMKM tidak mampu bertahan menghadapi kenaikan biaya operasional, maka risiko pengurangan tenaga kerja hingga penutupan usaha bisa terjadi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperbesar angka pengangguran dan kemiskinan,” pungkasnya.
(Okt)











