LAMPUNG (KANDIDAT) – Keluhan penghuni Perumahan Mata Air Residence kembali mencuat. Akses jalan menuju kawasan perumahan tersebut hingga kini disebut belum mendapat perbaikan, meski sejumlah konsumen mengaku sejak awal pembelian rumah mendapat informasi dari pihak marketing bahwa jalan menuju perumahan akan dibeton.
Keluhan itu disampaikan warga melalui sebuah video yang beredar di TikTok dari akun bernama BEN. Dalam video tersebut, warga memperlihatkan kondisi jalan menuju Perumahan Mata Air Residence yang tampak curam, berbatu dan mengalami kerusakan.
Kondisi jalan tersebut dinilai menyulitkan sekaligus membahayakan pengguna jalan, terutama warga yang menggunakan sepeda motor. Warga bahkan menyebut pengguna kendaraan perempuan kerap mengalami kesulitan ketika melintasi akses tersebut.
Dalam rekaman itu, warga mengungkapkan bahwa saat awal pemasaran perumahan, calon konsumen mendapat informasi bahwa akses menuju perumahan akan dilakukan pengecoran atau betonisasi.
Namun, setelah berjalan beberapa waktu, warga mengaku mendapat penjelasan dari pihak pengembang bahwa jalan tersebut merupakan jalan desa atau jalan kabupaten sehingga kewenangan pembangunannya berada di pemerintah.
Warga menilai alasan tersebut tidak semestinya membuat persoalan akses jalan berhenti begitu saja. Sebab, apabila sejak awal betonisasi jalan menjadi bagian dari informasi atau janji yang disampaikan marketing kepada calon pembeli, pengembang dinilai tetap memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal realisasinya.
“Seharusnya dikawal sampai benar-benar terealisasi dan diperbaiki, bukan kemudian diserahkan begitu saja dan dianggap tanggung jawabnya selesai,” ujar warga dalam rekaman video tersebut.
Menurut warga, buruknya kondisi jalan juga bukan sekadar persoalan kenyamanan. Jalan yang curam dan rusak dinilai memiliki risiko terhadap keselamatan pengguna.
Bahkan, warga mengaku salah seorang anggota keluarganya pernah terjatuh saat melintasi akses tersebut. Kondisi itu membuat kekhawatiran semakin besar, terutama bagi penghuni yang setiap hari menggunakan sepeda motor untuk beraktivitas.
Keluhan serupa juga disampaikan salah seorang penghuni Perumahan Mata Air Residence, Deki. Ia mengatakan sebelumnya warga pernah duduk bersama dengan pihak pengembang untuk menyampaikan berbagai keluhan, termasuk persoalan akses jalan.
Dalam pertemuan tersebut, menurut Deki, pihak pengembang sempat menyatakan akan mengawal proses perbaikan jalan menuju perumahan.
Namun, hingga kini warga mengaku belum memperoleh kejelasan mengenai tindak lanjut janji tersebut.
Persoalan semakin menjadi sorotan setelah proses serah terima kawasan disebut telah dilakukan kepada pemerintah setempat. Setelah serah terima tersebut, warga menilai pengembang justru terkesan melepas tanggung jawab terhadap persoalan akses jalan.
“Memang sudah serah terima ke pemerintah setempat, tetapi seharusnya pihak pengembang tetap menjalankan janjinya untuk mengawal perbaikan jalan tersebut,” kata Deki.
Deki menegaskan, persoalan tersebut menjadi kekecewaan tersendiri bagi warga karena kondisi jalan merupakan salah satu hal yang sebelumnya diyakini akan mendapatkan perbaikan.
Ia menyebut, sebelum membeli rumah, sejumlah konsumen tertarik memilih Perumahan Mata Air Residence karena mendapatkan penjelasan dari pihak marketing bahwa akses jalan menuju perumahan akan dibeton.
“Yang membuat kami tertarik membeli rumah di Perumahan Mata Air Residence ini adalah janji-janji manis dari para marketing dari pengembang yang mengatakan bahwa jalan tersebut akan dibeton. Tapi sampai saat ini belum juga terpenuhi,” ujarnya.
Warga pun mengaku merasa kecewa karena janji tersebut belum kunjung terealisasi, sementara sebagian penghuni telah menempati rumah dan membayar angsuran selama hampir tiga tahun.
“Ini sudah jalan tahun ketiga. Saya menempati dan mengangsur rumah sudah tahun ketiga, tapi nyatanya jalan belum ada perbaikan,” tandasnya.
(Yud)











