Bandar Lampung (Kandidat) – Provinsi Lampung menunjukkan langkah maju yang semakin progresif dalam memperkuat sektor pertanian. Memasuki tahun 2026, percepatan pembangunan irigasi tidak lagi sekadar program rutin, melainkan telah menjadi strategi besar berbasis data untuk menjaga stabilitas produksi pangan.
Data terbaru memperlihatkan lonjakan signifikan pada program Irigasi Perpompaan (Irpom). Dari realisasi 415 unit pada 2024, jumlah usulan meningkat drastis menjadi 1.222 unit pada 2026, hampir tiga kali lipat. Ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak hanya merespons kondisi, tetapi mulai mengantisipasi potensi krisis air secara sistematis.
Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Lampung, Endro Gunawan, menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap prediksi musim kemarau yang mulai menguat sejak Mei.
“Intervensi Irpom ini diharapkan mampu menjaga suplai air di titik-titik rawan kekeringan. Selain itu, petani juga mulai diarahkan untuk menyesuaikan pola tanam, termasuk beralih ke komoditas non-padi di wilayah terdampak,” ujarnya.
Tidak hanya Irpom, program irigasi perpipaan juga mengalami peningkatan signifikan, dari 12 unit pada 2024 menjadi 95 unit di 2026. Sementara itu, pendekatan konservasi air yang sebelumnya belum optimal kini mulai diperkuat dengan alokasi 110 unit. Ini menandakan bahwa pembangunan irigasi di Lampung telah bergerak ke arah yang lebih komprehensif, tidak hanya menyediakan air, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Distribusi Irpom tahun 2026 menunjukkan fokus yang tepat sasaran. Wilayah sentra produksi sekaligus daerah rawan kekeringan menjadi prioritas utama, seperti:
- Lampung Timur: 247 unit
- Way Kanan: 209 unit
- Lampung Tengah: 187 unit
- Lampung Selatan: 186 unit
Langkah ini memperlihatkan komitmen pemerintah dalam mengamankan wilayah lumbung pangan agar tetap produktif meski menghadapi tekanan iklim.
Di sisi lain, proses validasi Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) menjadi fondasi penting dalam memastikan keberhasilan program. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, Elvira, menegaskan bahwa proses ini memastikan bantuan tepat sasaran.
“CPCL bukan sekadar administrasi, tetapi memastikan pompa benar-benar digunakan oleh petani yang membutuhkan dan mampu meningkatkan indeks pertanaman,” jelasnya.
Saat ini, verifikasi CPCL terus berjalan dan ditargetkan rampung 100 persen dalam waktu dekat, guna menjamin efektivitas seluruh program yang telah dirancang.
Transformasi Kebijakan: Dari Reaktif ke Antisipatif
Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, arah kebijakan irigasi di Lampung kini mengalami transformasi besar. Pendekatan yang dulu cenderung reaktif kini berubah menjadi antisipatif, terukur, dan berbasis data.
Lonjakan volume program dan dukungan anggaran menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadapi perubahan iklim, sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah. Irpom 2026 pun tidak lagi sekadar bantuan teknis, melainkan telah menjadi instrumen strategis dalam memastikan pertanian Lampung tetap tangguh, produktif, dan berkelanjutan.
Dengan langkah ini, Lampung mempertegas posisinya sebagai salah satu daerah yang adaptif dan siap menghadapi tantangan masa depan di sektor pertanian.
(Abg)











