Generasi Terjebak Ilusi: Catatan Untuk Pendidikan Lampung

Oleh : Gunawan Handoko

Pemerhati pendidikan, anggota Dewan Pakar Forum Literasi Lampung

KEPALA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdik) Provinsi Lampung, Thomas Amirico baru-baru ini mengingatkan kita lewat gagasannya berjudul Ilusi Memahami Dunia.

Menurutnya, generasi hari ini terjebak ilusi memahami dunia. Anak-anak kita fasih menggulir layar, cepat membagikan informasi, tapi sering dangkal saat diminta menjelaskan. Mereka tahu banyak, tapi paham sedikit.

Saya sepakat dengan diagnosis itu. Di era banjir informasi sekarang ini, ilusi “sudah baca = sudah tahu” memang nyata. Tapi saya juga mencatat kabar baik yang pernah dilontarkan Pak Thomas dalam acara Gebyar Literasi Nasional yang digelar Forum Literasi Lampung di Nuwo Baca Zainal Abidin, Bandar Lampung pada 29 Juli 2025.

Disdikbud Lampung sudah punya program yang mewajibkan siswa meluangkan waktu 10 menit setiap hari untuk membaca dan menulis. Kegiatan ini bersifat wajib dan terstruktur, diterapkan secara serentak di seluruh satuan pendidikan dari SD hingga SMA di provinsi Lampung.

Itu langkah berani, bukan saja mendorong penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah, tapi juga untuk memotong ilusi tadi. Tinggal bagaimana kita memastikan program membaca massal tidak berhenti di rutinitas, tapi naik peringkat menjadi budaya berpikir. Menurut saya ada tiga hal yang perlu kita kuatkan bersama.

Pertama, membaca massal harus ditambah bedah isi. Membaca bersama 10 menit di awal jam pelajaran itu bagus untuk melatih konsentrasi siswa. Tapi kalau selesai membaca langsung bubar, maka yang tertinggal hanya bunyi, bukan makna.

Ilusi justru bisa bertambah: siswa merasa sudah “belajar” karena sudah membaca, padahal belum sempat mengolah. Solusinya sederhana: sisihkan waktu beberapa menit setelah membaca massal untuk tanya jawab. Guru bisa melempar beberapa pertanyaan: Apa inti tulisan? Kalimat mana yang kalian setujui atau ditolak? Dengan cara ini, membaca massal akan berubah fungsi.

Dari sekadar gerakan fisik membuka buku, menjadi latihan berpikir kritis. Siswa belajar memilah fakta dan opini, mengenali bias, dan berani berbeda pendapat disertai dengan alasan. Barangkali inilah penangkal paling efektif terhadap ilusi memahami dunia tadi. Kedua, sambungkan bahan bacaan dengan muatan lokal Lampung.

Salah satu poin penting Pak Thomas adalah pendidikan dan kebudayaan tak terpisahkan. Karena jika kebudayaan tidak dijaga, nilai luhur bangsa akan hilang. Saya sangat setuju. Tapi menjaga kebudayaan tidak cukup hanya dengan pentas seni setahun sekali, perlu berkesinambungan.

Dalam konteks ini, bahan baca massal bisa kita selingi dengan cerita rakyat Lampung, kisah perjuangan tokoh lokal, atau tulisan tentang Piil Pesenggiri. Ajak siswa membaca naskah adat tentang etika mengelola tanah, lalu diskusikan relevansinya dengan masalah lingkungan hari ini.

Ketika siswa membaca tentang jati diri daerahnya sendiri, mereka tidak hanya belajar literasi. Mereka juga belajar tentang identitas. Membaca jadi jembatan antara dunia global di genggaman mereka, dan akar budaya di tanah kelahirannya.

Ini yang membuat pendidikan karakter tidak hanya jadi hafalan, tapi juga pengalaman. Ketiga, guru harus terlihat sebagai pembaca, bukan hanya penyuruh baca. Pak Thomas menyebut bahwa guru sebagai “arsitek moral bangsa” dan “orang tua kedua”.

Peran itu memang berat, tapi akan kehilangan daya apabila guru hanya menyuruh siswa membaca, sementara dirinya tidak terlihat membaca. Program baca massal yang dicanangkan Disdikbud Lampung akan menjadi ujung tombak maha dahsyat, kalau guru ikut duduk bersama siswa, membuka buku yang sama, lalu berbagi satu hal yang ia petik.

Tidak perlu ceramah panjang. Cukup jujur: “Saya terkesan dengan paragraf ini karena…..” Keteladanan sekecil itu akan memotong jarak antara guru dan siswa. Sebagai Kadikbud Lampung Pak Thomas telah meletakkan program membaca sebagai landasan atau pondasi dalam membangun kualitas pendidikan dan sumber daya.

Di era digital sekarang ini, kegiatan membaca massal dipandang efektif dalam menumbuhkan minat membaca bagi para siswa, khususnya di tingkat dasar. Membaca adalah suatu proses mental atau kognitif yang di dalamnya seorang siswa diharapkan bisa mengikuti dan merespon terhadap pesan si penulis.

Untuk memenuhi hasil akhir yang sempurna, diperlukan peran guru yang kreatif dan memiliki kemampuan untuk mengemasnya. Seyogyanya setiap guru harus mampu menjadikan siswa tidak hanya tergantung kepada buku wajib atau catatan yang diberikan guru kepada siswa, tapi lebih kepada menjadikan siswa untuk mengecek langsung ilmu tersebut dari sumber tertulis.

Selama ini siswa hanya mengenal buku-buku pelajaran wajib, sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan koreksi dan perbandingan antara ilmu yang didapat dari buku pelajaran dengan ilmu yang diperolehnya melalui buku bacaan.

Jujur diakui, saat ini banyak guru yang terbebani administrasi. Kalau kita serius ingin guru jadi arsitek moral, maka beban non-mengajar harus dipangkas. Alihkan waktu tersebut untuk mentoring beberapa siswa binaan per guru. Catat perkembangan karakter mereka, bukan hanya nilai akademik. Buat “rapor karakter” selain rapor pelajaran yang resmi. Ini sinyal yang jelas, bahwa sistem kita menghargai integritas, empati, dan keberanian. Kembali ke soal ilusi. Ilusi paling berbahaya bukan ketika anak tidak tahu apa-apa.

Tapi ketika anak merasa sudah tahu segalanya, karena terlalu cepat mengonsumsi informasi. Maka program baca massal harus terus dikuatkan, sekaligus memberi ruang bagi guru untuk mengolahnya jadi diskusi. Sekolah harus berani memilih bahan baca yang menantang, bukan hanya yang aman.

Dan kita sebagai orang tua harus menjadi pembaca juga dirumah. Anak tidak akan percaya tentang pentingnya membaca kalau di rumah tidak ada buku, atau buku yang ada hanya jadi hiasan. Pak Thomas Amirico sudah meletakkan batu pertama dengan program baca massal.

Batu itu harus kita susun jadi pondasi dan diikat dengan pasangan beton yang kuat. Pondasi untuk generasi Lampung yang tidak hanya cepat mengakses informasi, tapi juga sabar memahami, berani menguji, dan setia pada nilai-nilai. Jika itu terjadi, maka 10 tahun lagi kita tidak lagi mengeluhkan generasi yang terjebak ilusi.

Kita akan bangga punya generasi yang jernih dalam melihat dunia, karena terbiasa membaca, berpikir, dan berpijak pada budaya sendiri. Dan ini sesuai dengan perjuangan kita untuk menjadikan Lampung sebagai Provinsi Literasi.

Setiap dari kita dapat mulai berbuat sesuai dengan peran masing-masing, untuk selanjutnya bersinergi. Selamat bekerja para guru dan pengelola pendidikan Lampung. Membaca adalah awal, dan berpikir adalah tujuan. Salam Literasi. (*)