BANDAR LAMPUNG (KANDIDAT) – Aktivis lingkungan dan sosial dari Yayasan Masyarakat Hayati Indonesia (YMHI) menilai banjir di kota Bandar Lampung akibat hilangnya bukit dan drainase yang menyempit.
Ir. Almuhery Ali Paksi, menilai salah satu penyebab utama banjir adalah semakin berkurangnya kawasan resapan air akibat alih fungsi lahan yang terus terjadi di wilayah kota dan sekitarnya.
“hampir seluruh kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini telah berubah fungsi sehingga kemampuan tanah untuk menyerap air hujan menjadi sangat terbatas. Yang pasti hampir seluruh kawasan resapan air di Bandar Lampung sudah berubah fungsi dan proses ini masih terus berlangsung,” kata Almuhery. Minggu (08/03)
Sehingga, kerusakan berbagai bukit yang sebelumnya berperan sebagai daerah tangkapan air alami. Kondisi tersebut, kata dia, diperparah oleh aktivitas tambang batu di sejumlah perbukitan yang dinilai belum ditangani secara tegas.
“Berbagai bukit tangkapan air juga sudah banyak yang luluh lantak, termasuk karena tidak tegasnya penghentian tambang-tambang batu di bukit-bukit yang mestinya menjadi penangkap air,” ujarnya.
Selain persoalan di kawasan hulu, Almuhery menilai sistem drainase di dalam kota juga belum berfungsi secara maksimal. Banyak saluran air yang tidak mampu menampung debit air saat hujan deras sehingga memicu genangan hingga banjir di sejumlah titik.
“Banyak drainase yang tidak berfungsi maksimal sehingga ketika hujan deras air tidak tertampung dengan baik dan akhirnya meluap ke permukiman,” jelasnya.
Ia pun mendesak pemerintah daerah untuk mengambil langkah tegas dengan menghentikan pemberian izin terhadap alih fungsi lahan di kawasan resapan air.
“Pemerintah harus berani menghentikan seluruh izin pada lahan-lahan resapan air yang diubah fungsinya menjadi pusat perbelanjaan, perumahan, maupun peruntukan lainnya,” tandasnya.
(Okt)











